Showing posts with label travel. Show all posts
Showing posts with label travel. Show all posts

Monday, November 28, 2016

Membuat Paspor Secara Online

Kali ini, gue bakal bercerita bagaimana mudahnya memperpanjang ataupun membuat paspor secara online. Sudah lama ingin banget perpanjang paspor, tapi banyak kendalanya, antara males antri, ribet urusan birokrasi, waktu mepet, dan sebagai macam alasan yang sebenarnya bisa diakali. Hingga suatu hari, Tante gue ngajak bikin paspor untuk anak-anaknya, kemudian berpikir, "Apakah gue sekalian perpanjang paspor? Apakah ini waktu yang tepat?". Mumpung waktu lowong, gue memutuskan untuk ikutan perpanjang paspor, paspornya dipake kemana, itu urusan nanti.
Juni 2016, saat bulan puasa, gue rasa adalah waktu yang tepat untuk berkunjung ke kantor imigrasi. Sebelumnya sekitar bulan Maret 2016, pernah mencoba membuat paspor di Kantor Imigrasi Kelas 1 Bandung di Jalan Soekarno Hatta No.348. Kenapa di situ? Menurut sumber terpercaya dan pengalaman, antrian di situ tidak akan sebegitu parahnya seperti yang di Jalan Surapati, karena saat mengantar pacar (sekarang suami) membuat paspor (tahun 2015), baru datang sekitar jam 9 atau 10, masih dapat antrian dan selesai sebelum jam makan siang. Ternyata, saat gue kembali lagi ke situ, tidak sesepi yang diharapkan, datang jam 8, antrian udah penuh, kami pun ditolak. Gagal lah.
Keterbatasan waktu, membuat gue memutuskan untuk menyarankan membuat paspor secara online, baik perpanjangan maupun permohonan baru. Awalnya ragu untuk online, karena antrian online hanya tersedia di Kantor Imigrasi Surapati, membayangkan antrian penuh sesak, itu udah pesimis duluan. Begini prosedur permohonan paspor secara online:

  • Masuk ke website Layanan Paspor Online atau search di Google dengan keyword 'paspor online', nanti akan muncul link-nya. Mungkin akan ada notifikasi bahwa link tersebut agak berbahaya, lanjut saja.

Tampilan website Layanan Paspor Online
  • Pilih 'Pra Permohonan Personal'. Isi data yang dibutuhkan. Apakah permohonan paspor baru, perpanjangan, atau lainnya. Klik 'Lanjut'.
  • Isi informasi pemohon. Jangan sampai salah isi, ya! Dicek lagi sebelum klik 'Lanjut'. Walaupun nanti saat wawancara, akan ada verifikasi data oleh petugas. Untuk bagian identitas, karena masa berlaku e-KTP sudah seumur hidup, pada bagian masa berlaku identitas, tambahkan 5 tahun ke depan dari tanggal identitas dikeluarkan. Hal ini berlaku juga untuk anak-anak yang belum mempunyai KTP, nomor identitas didapat dari kartu keluarga (NIK).

  • Isi terus informasi pemohon hingga ada jumlah uang yang harus dibayarkan dan metode pembayaran yang diinginkan, kemudian akan ada captcha sebagai verifikasi bahwa pemohon bukanlah robot.
  • Setelah itu akan tampil informasi pembayaran dan konfirmasi permohonan yang berisi informasi kantor imigrasi yang akan kita tuju, tanggal yang tersedia untuk kanim yang dipilih kemudian masukan kode caphtcha dan klik tombol lanjut.
  • Nanti akan ada email konfirmasi dan juga lembaran yang harus dibawa saat melakukan pembayaran. Pembayaran tidak boleh lebih dari 5 hari dari email diterima, ya! Kalau lebih dari 5 hari, kamu harus isi ulang permohonan paspornya.
  • Kalau sudah melakukan pembayaran, kamu harus klik link konfirmasi yang ada di email konfirmasi permohonan sebelumnya. Setelah klik linknya, nanti kamu diharuskan isi formulir lagi.
Bukti Pembayaran 
  • Kamu akan masuk ke halaman Konfirmasi Tanggal Kedatangan. Pada halaman tersebut juga terdapat contoh resi, untuk melihat No. Jurnal apabila pemohon telah melakukan pembayaran. Di situ pula kamu memilih tanggal kedatangan kamu nanti di Kantor Imigrasinya.
  • Cek email lagi, deh. Formulir itu diprint dan nantinya dibawa saat ke Kantor Imigrasi, ya!
Sorry, gambarnya engga lengkap untuk yang online, karena gue engga bisa lanjut ke menu selanjutnya, mungkin sistem 'ngeh' kalau gue udah punya paspor dan malah pilih permohonan paspor baru, hahaha. Lebih jelasnya bisa dilihat di sini.
Setelah daftar online, kita hanya tinggal menunggu tanggal yang kita pilih sebelumnya (jangan sampai lupa tanggalnya, ya!). Jangan lupa sedia lem, pulpen, ataupun alat tulis lainnya yang kemungkinan berguna. Waktu itu, gue datang jam 6 pagi, alhamdulillah antrian online kebagian nomor awal, sedangkan yang walk-in sudah antrian nomor 60-an. Kebayang, dong, nunggunya bakal lama banget kalau walk-in? Dan, saat itu lagi bulan puasa, tetep aja rame.

Nomor Antrian
Suasana Kantor Imigrasi Bandung
Suasana Saat Hari Pengambilan Paspor
Nomor Antrian Pengambilan Paspor 
Engga perlu nunggu lama, gue udah dipanggil untuk foto dan wawancara. Gue iseng tanya bapak petugasnya, "Pak, jam segini kok udah rame aja, sih?". Bapaknya cuma bilang, "Ya beginilah.". Sesungguhnya itu bukan jawaban yang gue inginkan, engga ada drama-dramanya gitu, hahaha.
Jam 7 pun gue udah selesai urusan di Kantor Imigrasi. Cepet banget! 
Seminggu kemudian pun gue kembali lagi ke Kantor Imigrasi untuk mengambil paspor. Antrian pengambilan paspor cukup panjang tapi tidak memakan waktu lama. Hanya kurang lebih 30 menit, paspor baru sudah berada di tangan gue. Tidak lupa, gue meminta paspor lama gue untuk bisa dipegang alias disimpan sebagai kenang-kenangan, hanya dengan mengisi form yang diberikan petugas dan kita bubuhi materai dan tanda tangan kita. Kelar, deh!
Paspor Lama dan Baru
Persyaratan paspor juga bisa dilihat di sini. Mudah, kok, persyaratannya. Juga tidak perlu menggunakan calo kalau memang kamu tidak begitu sibuk. Selamat membuat paspor!
Keep Traveling and Share Your Travel Experience!

Friday, November 20, 2015

Merapi Volcano Tour dari Tahun ke Tahun

Tahun 2010, Gunung Merapi meletus yang bikin heboh banget karena letusan saat itu mengakibatkan ratusan orang tewas yang salah satunya adalah Mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi. Setiap Gunung Merapi akan meletus, warga pasti menunggu rujukan dari Mbah Maridjan sebagai jurunya untuk mengungsi atau tidak. Saat letusan, konon katanya Mbah Maridjan engga mau dievakuasi, beliau keukeuh tinggal dan pada akhirnya ditemukan dalam keadaan meninggal dengan posisi sujud (CMIWW, correct me if I'm wrong).
Beberapa bulan setelah letusan Gunung Merapi, gue pergi ke Yogyakarta, sekitar bulan Maret 2011. Setibanya di Stasiun Tugu Yogyakarta di jam subuh, bingung kan mau pergi kemana dulu sebelum check-in ke hotel, ketemu sopir-sopiran di stasiun, dibawalah kami jalan-jalan, diajak ke Gunung Merapi. Rasanya excited, penasaran sama keadaan setelah letusan.
Pemandangan Selama Perjalanan, 2011
Mendekati Kawasan Gunung Merapi, 2011
Ojek Merapi
Keadaan saat itu, benar-benar subhanallah. Semuanya hampir habis. Jalanan pun rusak, apalagi sampai ke tempat yang banyak ojek untuk melihat ke area dampak letusan lebih dekat. Kata sopirnya saat itu, dengan meletusnya gunung malah tanah di sekitarnya menjadi subur. Kuasa Tuhan.
Rumah Mbah Maridjan, 2011
Dengan bermodalkan naik ojek untuk melihat lebih dekat, gue dibawa ke rumah Mbah Maridjan. Seperti yang bisa dilihat di foto, tinggal secuil itu saja. Kebayang engga, sih, kena letusan gunung kayak gimana. Ngeri.
Kemudian, tahun 2014, gue balik lagi ke Yogyakarta dan balik lagi ke Merapi. Konon katanya sudah ada Merapi Volcano Tour, diajak keliling kawasan Gunung Merapi. Penasaran, maka dicobalah. Untuk ikutan Merapi Volcano Tour, kita harus menggunakan jeep, tapi bisa juga pake ojek. Untuk ojek sendiri, gue kurang tahu berapa biayanya. Saat itu, gue menggunakan operator yang paling awal ditemukan setelah melewati gerbang masuk kawasan Merapi yang dipungut biaya. 
"Habis Sudah Semua"
Ada museum mini sisa-sisa peninggalan letusan gunung. Unik juga, sih. Entah gue baru main ke gunung (pernah meletus) atau gimana, tapi ini unik, kreatif sampe dibikin seperti ini. Isinya koleksi-koleksi warga yang masih tersisa meski beberapa ada yang bentuknya udah engga karuan.
Rombongan, 2014
Saat itu, rute yang diambil adalah rute yang medium. Rutenya kita bakal dibawa ke Museum Mini Hartaku, Bunker, Makam Mbah Maridjan, Batu Alien (seinget gue). Jalanannya berdebu banget parah, banyak truk bawa pasir apa batu, jadilah kebul.
Makam Mbah Maridjan
Yang bule itu adalah sepupu gue, ketika mereka dibawa ke makam, mereka kebingungan. Mungkin menurut mereka, "Buat apa sih ke makam?". Diberi lah penjelasan mengenai hal bahwa orang Indonesia doyan ziarah untuk mendoakan yang sudah meninggal terutama yang mempunyai peran penting di Indonesia atau di kehidupan mereka.
Rombongan Truk
Waktu dibawa ke Batu Alien, gue bingung, apanya yang alien. Begitu juga para bule, mereka bingung, batu apaan sih sampe sebegitunya istimewa. Pemandu memberitahukan kenapa batunya disebut batu alien, karena membentuk wajah manusia. Ampun! Pemandu memberitahukan letak-letak telinga, mata, hidung, dan mulut di batu tersebut. Gue bengong. Sungguh, gue tidak melihat kesemua itu. Hahahaha. Memang orang Indonesia tuh kreatif banget.
Batu Alien, Katanya
Sepulang dari Merapi saat itu, saking kebulnya, rambut gue sampe engga berbentuk alias keras banget saking banyak debu nempel di rambut padahal rambutnya diikat. Suasana saat itu juga sepi, karena lagi bulan puasa juga, orang lain menghindari jalan-jalan, lah gue malah jalan-jalan di bulan puasa. Ramenya malah sama truk bukan sama wisatawan.
Tahun 2015, lagi-lagi gue ke Yogyakarta. Sungguh, bukan sombong atau gimana, hampir tiap tahun Yogyakarta adalah tujuan perjalanan. Tapi kali ini, bukan untuk jalan-jalan melainkan untuk datang ke undangan pernikahan temen. Mumpung di Yogya, sekalian jalan-jalan ke Merapi lagi naik jeep. Ngambil rute medium dan memilih Kalikuning dibandingkan makam Mbah Maridjan seharga Rp400.000. Harga tersebut adalah harga satu jeep dan satu jeep kapasitas maksimalnya adalah 6 orang, tapi kalau sempit-sempitan engga enak, sebagaimana pengalaman di tahun 2014. Karena gue pernah merasakan naik jeep ke Merapi, jadi gue merasa biasa saja apalagi rutenya sama kecuali yang Kalikuning (sombong).
Kalikuning
Bunker
Area Bunker
Di trip kali ini, gue merasa ada yang berbeda. Gue bayangkan dari pertama banget gue datang ke Merapi, perbedaannya sangat jauh, bahkan dari tahun 2014 ke tahun 2015. Perbedaan yang gue rasakan adalah:
  1. Kondisi jalan semakin membaik untuk sampai ke pintu awal Merapi, tapi seterusnya tetap bolong-bolong atau memang tidak dirawat saja, gue tidak tahu.
  2. Pertama kali ke Merapi dibawa ke lokasi rumah Mbah Maridjan tapi kunjungan ke-2 dan ke-3 malah engga, apa gue kurang mendengarkan kata pemandu, bisa jadi, sih. Mungkin dibawa ke rumah Mbah Maridjan, tapi kondisinya sudah berbeda.
  3. Pohon-pohon mati sudah berganti menjadi pohon-pohon subur.
  4. 2014, di bunker belum ada papan tulisan "Bangker", 2015 sudah ada.
  5. Tahun ke tahun kayaknya makin rame, terakhir ke Merapi rombongan yang gue lihat bisa sampai 30 jeep, entahlah, pokoknya banyak banget, semoga saja kelestariannya tetap terjaga.
  6. Pertama kali ke Merapi, jeep malah engga ada sama sekali, apalagi motor trail, sekarang kayak jamur, banyak banget.
  7. Tahun 2014, batu alien yang disebut menyerupai wajah manusia beda angle dengan yang diberitahu di tahun 2015, entah mana yang benar.
  8. Truk-truk sepertinya sudah diatur sedemikian rupa agar tidak bentrok dengan jeep-jeep yang berseliweran, karena di tahun 2014, gue sempat mengalami macet karena berada di jalur antrian truk yang super panjang lagi antri buat ambil pasir.
  9. 2014, belum ada papan tulisan "Musium Mini Hartaku" di bangunan rumahnya, 2015 sudah ada.
Penasaran? Datang saja langsung untuk mencicipi Merapi Volcano Tour. Aksesibilitas menuju Gunung Merapi gampang banget, kok! Arahin aja ke Kaliurang, ikutin jalan lurus terus sampai nanti ada petunjuk ke Kaliadem, bahkan ada petunjuk Merapi Volcano Tour. Kalau nyasar, ya apalagi, gunakan GPS alias Gunakan Penduduk Sekitar.

FIRST!
Dengan telah tiga kali gue mengunjungi Gunung Merapi, gue merasa bangga bisa berfoto dengan bangkai mobil bekas terkena letusan gunung. Apalagi sepertinya jarak gue dengan Gunung Merapi tidak terlalu jauh.
Dengan telah tiga kali gue mengunjungi Gunung Merapi, gue makin yakin bahwa orang Indonesia itu super kreatif, apapun bisa dijadikan obyek daya tarik wisata, semacam batu alien. Meletusnya Gunung Merapi pun, gue melihatnya sebagai berkah, karena setelah meletusnya Gunung Merapi, warga sekitar malah terbangun untuk menjadikannya sebagai daya tarik wisata, menjadi berkah bagi mereka sendiri setelah bencana tersebut. Gue pun makin yakin juga bahwa orang Indonesia banyak penganut wisata mainstream, satu ke sana, semua ikut ke sana, gue termasuk salah satunya, hahaha.
Semoga saja dengan makin banyak obyek daya tarik wisata di Indonesia dan wisatawan banyak berkunjung tidak melupakan untuk ikut turut serta menjaga kelestarian alamnya, keseimbangan alam, yang berhubungan dengan alam. Hukum alam berlaku.
Keep Traveling and Share Your Travel Experiences!

Sunday, October 25, 2015

Pantai Pandawa yang Bukan Pantai Rahasia Lagi

Dulu waktu gue tinggal di Bali tahun 2013, gue diajak pergi ke suatu pantai, katanya pantai rahasia, pantai baru, belum ada yang mengetahui keberadaan si pantai ini. Dengan titel 'pantai rahasia' tentu saja tertarik untuk mengunjungi pantai tersebut. Sebenarnya, orang-orang (teman-teman gue) di media sosial pada saat itu sudah ada yang pernah update di pantai rahasia tersebut. Sebut saja Pantai Pandawa.
Pantai Pandawa terletak di Bali bagian selatan. Gue menuju Pantai Pandawa dari kosan gue di daerah Udayana, mencoba memilih jalur yang tidak biasa alias jalan pintas berkat Google Maps. Jalan yang gue tempuh saat itu berliku-liku dan naik-turun, ada tanjakkan yang cukup miring yang mengakibatkan temen gue engga bisa nerusin naik motor sehingga harus digotong, entah kondisi motornya yang kurang fit atau yang diboncengnya kelebihan beban, hahaha.
Kalau lewat jalur biasa, ke Pantai Pandawa bisa melewati Garuda Wisnu Kencana dari arah Jimbaran atau dari arah Nusa Dua ke arah Garuda Wisnu Kencana. Nanti ada papan petunjuk yang mengarahkan ke Pantai Pandawa. Yang pasti kalau nyasar, tinggal gunakan GPS (Gunakan Penduduk Sekitar) atau pake Google Maps.
Sesampainya di sana, jalanan masih belum diaspal, entah gue harus menyebutnya apa, yang pasti jalanannya masih kurang, deh. Kami disapa oleh petugas yang berjaga, kami ditarik biaya sebesar Rp6.000 per motor tanpa karcis. Kami pun disapa oleh pemandangan berupa tebing batu kapur yang tinggi dan keren banget (menurut gue).
Pantai Pandawa
Sepi Banget
Enak banget lah pantai kayak begini, tiada pengunjung, pantai berasa milik pribadi. Ya meskipun ada beberapa orang, tapi tidak seramai di Pantai Kuta. Mana warna air lautnya kece banget, kan!
Di parkiran motor pun sepi banget. Gue mengalami kejadian menakjubkan di sini, temen gue kelupaan cabut kunci motor dari motor, baru sadar waktu lagi main air, mau ambil dulu tapi kagok, ya sudahlah. Waktu balik ke motor, kuncinya masih tersimpan dengan rapi di tempat asalnya. Itu adalah salah satu hal yang menyenangkan berada di Bali dengan keamanannya dan kejujurannya, tapi itu kayaknya lagi hoki aja, sih.
Kalau mau duduk-duduk di sini di bawah payung, harganya Rp50.000 sepuasnya.
Kalau mau dapat momen bagus di sini, datanglah ketika pagi menuju siang, airnya engga surut.
Banyak yang Terbang
Pantai Pribadi
Pantai Pribadi
Semenjak itu, Pantai Pandawa jadi pantai favorit gue di Bali. Beberapa waktu kemudian, gue pun membawa sepupu gue main ke Pantai Pandawa. Masih dengan suasananya yang sepi. Datang di siang hari, airnya udah cukup surut, tapi masih bisa dipakai buat main kanoe (atau apa lah itu). Sewa kanoe cuman Rp25.000, murah (menurut gue).
Main Kanoe
Pantai Pribadi
Yeah, senang sekali rasanya mengetahui lokasi pantai rahasia di Bali. Secara di Bali banyak pantai tapi mainstream alias banyak yang tahu. Di awal tahun 2014, gue pun membawa teman lagi ke Pantai Pandawa. Entah karena sudah banyak yang mengetahui pantai ini atau memang lagi musim liburan, banyak banget yang lagi berkunjung ke pantai ini, sekejap kemudian gue merasakan kerinduan akan sepinya pantai ini.
Di tahun 2015, gue pun kembali ke pantai ini. Seperti yang sudah gue duga, pantai ini jadi rame banget. Banyak kendaraan parkir, orang-orang berfoto, udah semacam cendol, deh! Apa karena lagi musim liburan juga, tapi ini tuh rame banget.
Keramaian Pantai Pandawa, 2015
Ada Tulisannya Sekarang, 2015
Yang dulu sepi, sekarang jadi rame banget. Selang waktu 2 tahun dari pertama datang hingga terakhir datang ke Pantai Pandawa, perbedaannya mencolok. Kadang, dengan fenomena ini, gue bingung harus merasakan apa, senang atau sedih. Senang karena keindahan Indonesia diakui banyak orang dengan banyaknya yang berkunjung ke tempat tersebut atau merasa sedih karena tempatnya sudah tidak sesepi dahulu.
Begitulah tren wisata masa kini, yang banyak diomongkan di media sosial, pasti bakal ramai di kemudian hari. Seakan berkata, "Gue gaul udah pernah ke tempat ini itu" semacam lifestyle mengikuti apa yang sedang tren saat ini atau tidak mau kalah dengan orang-orang yang sudah pernah datang ke tempat tersebut.
Semoga saja dengan ramainya tempat wisata di Indonesia tidak melupakan apa yang harus dilakukan oleh pengunjung maupun pengelola yaitu dengan menjaga kelestarian alamnya dan memerhatikan lingkungan sekitarnya (masyarakat lokal). Kalau alamnya udah engga lestari, siapa yang mau berkunjung? Kalau udah engga seimbang, nanti sikut-sikutan (if you know what I mean).
Keep Traveling and Share Your Travel Experiences!

Monday, October 12, 2015

Ingkar Janji ke Baduy

Pertama kali gue ke Baduy saat studi lapangan dari kampus. Ceritanya bisa dibaca di sini. Setelah perjalanan itu, gue berikrar untuk engga akan pernah lagi ke Baduy dibayar berapapun juga. Sumpah, ke Baduy itu melelahkan jiwa dan raga. Mental dan fisik harus benar kuat adanya, lebay ya? Tapi itulah kenyataan yang gue rasakan. Gue engga mau lagi merasakan yang namanya mesti jalan kaki naik turun bukit selama berjam-jam. Semenjak itu pula gue berubah jadi anak yang anti gunung karena apabila gue naik gunung pasti bakal merepotkan atas lamanya gue jalan.
Jembatan Menuju Kampung Baduy Dalam dari Babakan Gajeboh
Namun, ketika ada tawaran ke Baduy (lagi), gue merasa tertantang. Di itinerary, disebutkan bahwa "ke Baduy dalam cuman 45 menit". Jelas dong gue penasaran?! Secara waktu itu gue jalan ke Baduy Luar aja butuh waktu berjam-jam. Kok ini cuman 45 menit? Gue ke Baduy dengan salah satu tour operator yang menjual paket wisata Baduy. Coba aja cari "ke Baduy 45 menit" di internet.
Gue baca lagi dengan seksama itinerarynya, pintu masuknya dari Cijahe. Aneh juga, karena biasanya masuk dari Ciboleger. Makin penasaran!
Jadilah, gue berangkat ke Baduy. Ketemu sama rombongan di Stasiun Tanah Abang. Ebuset, Jakarta bener keras! Hahaha. Gue agak takut-takut gimana gitu pergi ke Jakarta apalagi ke Tanah Abang yang terkenal 'keras'nya. Untung ada teman yang menemani untuk mengantar ke stasiun.
Naik Kereta Api
Setelah berkenalan basa-basi, tibalah saatnya pergi ke Baduy. Kita harus naik kereta Kalimaya dari Tanah Abang ke Rangkasbitung, cuman butuh Rp15.000 saja. Kereta berangkat jam 09.35 dan tiba di Rangkasbitung jam 11.10, menurut jadwal. Enak sih keretanya, tapi karena gue lelah, gue engga sempat fotoin keretanya karena tidur.
Setibanya di Rangkasbitung, kami langsung diarahkan ke terminal deket situ, abang kenek elf sudah menunggu. Lalu kami pun berangkat menuju Cijahe, tapi mampir dulu di tempat makan, namanya "Ayam Gemess". Gue lupa di daerah mana, gue engga minat banget ambil foto tempatnya, makanannya mahal dan engga berasa!
Super Elf
Jalan ke Cijahe ternyata sangat sangat sangat WOW. Berlika-liku, sempit, naik turun, yah gitu deh, mana supirnya ngebut. Tapi gue tetep bisa tidur dengan nyenyak walau mesti kejedot-jedot rangka besi si elf.
Suku Baduy
Sekitar jam 3, kami tiba di Cijahe. Berbeda jauh dengan pintu masuk di Ciboleger, di Cijahe lebih 'sempit', aksesibilitas pun bener-bener kurang memadai. Gue udah berekspetasi jalan ke Baduy Dalam engga bakal sampai 45 menit tapi lebih. Baru di tanjakkan ke-1, gue udah merasa lelah, hahaha. Lalu ada lagi tanjakkan ke-2, makin merasa lelah, soalnya gue pure bawa barang sendiri, engga kayak waktu itu yang dibawain. Waktu di tanjakkan ke-2, dibilang sama akang Baduynya, "Ini terakhir kok, sisanya turunan semua". Gue pernah di-PHP-in sama akang Baduy, dibilang dikit lagi, ternyata masih panjang, tapi kali ini gue engga di-PHP-in, karena setelah tanjakkan ke-2, kampung Baduy Dalam sudah terlihat. Sungguh, 45 menit pun engga sampe, apa karena gue engga melihat jam aja kali, ya!
Trek Menuju Cikeusik
Baduy Dalam dari Perbatasan Baduy Luar-Baduy Dalam
Kang Idong
Gue pun menginap semalam di Baduy Dalam, tepatnya di Cikeusik. Di rumahnya siapa itu gue lupa, hehe. Ahe gitu ya? Kami memanggilnya 'Ayah'. Yang pasti ada Kang Ralim, Kang Juli, Kang Herman, sama siapa satu lagi gue lupa. Kang Ralim itu yang paling hits se-Baduy kayaknya.
Kang Ralim paling lucu, dia sering ngomong, "Sialan", "Buset" terus suka nutup muka kalau lagi ngelucu bercanda. Sayangnya gue engga sempat foto sama Kang Ralim.
Di hari pertama di Baduy Dalam, gue sama sekali tidak menyentuh sungai di kala yang lain bolak-balik ke sungai karena ingin pipis dan sebagainya, karena memang gue tidak ingin. Oh iya, sungai di Baduy Dalam disebut dengan "keles", gue engga paham itu sungai apa kali, yang pasti disebut "keles", mungkin orang-orang gaul menyebut "keles" karena tau dari orang Baduy, berarti gaul-an orang Baduy, ya?!
Sunrise Baduy
Tanya-tanya sama orang Baduy, katanya ada yang pernah ke Bandung, jalan kaki, ebuset! Hebat!
Setelah 2x ke Baduy, gue tetep salut sama kekuatan adatnya, mereka tetap menjunjung tinggi nilai adat mereka dengan tidak menggunakan transportasi, jadi mereka hanya boleh berjalan kaki. Tapi sebenarnya masih ada pertanyaan, darimana mereka belajar membaca di kala mereka tidak ada pendidikan formal, darimana mereka bisa SMS-an, kenapa mereka boleh menonton tv. Jawaban dari pertanyaan itu adalah "Kalau Baduy Luar engga apa-apa, kalau Baduy Dalam engga boleh", dan kegiatan-kegiatan itu mereka lakukan di luar kampung mereka.
Hari terakhir sebelum kembali ke Cijahe, kami pun ke Baduy Luar dulu dengan mengambil jalan memutar. Sebenarnya cukup "lemah" juga pas dibilang jarak tempuhnya 1 jam dan kampung Baduy Luar ada di balik bukit, masalahnya kaki gue kepentok batu jadi kuku jempol kaki gue berdarah jadi nyeri, tapi tak mengapa, gue bertekad kuat. Ternyata, cuman gitu aja, serius cuman gitu aja, cobain deh! Rutenya pendek banget.
Lumbung Padi
Di Pintu Masuk Cijahe
Buat yang penasaran sama Baduy, boleh deh cobain masuk dari Cijahe, engga beda jauh sama dari Ciboleger kok, cuman mungkin engga akan nemu jembatan akarnya aja.
Maka dari itu, dengan perjalanan ke Baduy ini, gue mengingkari janji sendiri untuk tidak ke Baduy lagi. Temen-temen gue yang mengetahui perihal gue ke Baduy pun berkata seperti ini:
"Bohong!"
"Yakin lu ke Baduy lagi setelah perjalanan kita waktu sama kampus itu?"
"Lu ga inget janji lu waktu itu? Yang ga bakal ke Baduy lagi dibayar berapapun juga?"
"Katanya lu kapok ke Baduy?"
Segala omongan tentang ketidakpercayaan atas perjalanan gue ke Baduy.
Hikmah dari perjalanan Baduy kali ini, ternyata gue bisa mengalahkan kelelahan fisik yang gue rasa dengan menguatkan diri dengan berkata "Woi, ini tuh engga seberapa sama waktu itu dari Ciboleger" dan "Ijen masih lebih berat, tapi lebih berat ke Baduy lewat Ciboleger".
Satu lagi, dengan perjalanan sendiri gabung sama orang lain, gue mendapat teman baru dengan latar belakang kehidupan yang berbeda-beda.
Teman Baru
Rombongan Baduy 
Keep Traveling and Share Your Travel Experiences!

Wednesday, August 12, 2015

Kalibiru Keren, Tapi....

Pada suatu hari di kala senyapnya suasana sekeliling, gue scroll timeline Instagram, kemudian menemukan akun yang upload foto kece banget. Foto orang duduk di kayu di pohon, dengan latar belakang pemandangan spektakuler. Ada danau dan pegunungan, malah bisa terlihat garis pantai kalau engga backlight. Foto itu dipastikan berada di ketinggian.
Gue takjub melihat foto tersebut. Pikir gue saat itu, "Gila, berani banget dia naik pohon tinggi gitu terus duduk, gue pasti udah keringat dingin.".
Setelah melihat foto itu, gue bertekad harus banget foto kayak mereka. Eh tapi, searching dulu dong lokasinya dimana. Ternyata itu di Kalibiru, di sebelah baratnya Yogyakarta. Oke, fix banget mesti ke sana, lagipula Yogyakarta engga begitu jauh dari Bandung.
Foto-foto yang gue ambil secara random di Instagram dengan hashtag Kalibiru bisa dilihat di sini, eh buat yang mukanya atau fotonya gue pajang di sini dari Instagram, gue engga izin terlebih dahulu, anggap aja gue repost ya, hahaha.
Foto Instagram 1
Foto Instagram 2
Foto Instagram 3
Dilihat dari foto-foto yang ada di Instagram, kece banget, kan?! Keren banget, lah! Foto-foto kayak begitu bikin keikut pengen ngunjungin obyek wisatanya. Itulah kekuatan media sosial di masa sekarang.
Jadi, setelah membulatkan tekad, pergilah gue ke Yogyakarta. Tidak lupa mengunjungi Kalibiru. Gue teringat ada temen yang pernah ke Kalibiru, kan engga afdol kalau cuman lihat dari foto dan sekedar browsing. Gue tanya dong ke temen ke Kalibiru lewat mana, aksesibilitasnya gimana, dan sebagainya, deh sebagai pendukung perjalanan gue ke Kalibiru. Kata doi, di Google Maps juga ada, tinggal search Waduk Sermo atau Kalibiru, langsung deh dikasih arahan ke tempat tujuan. Oh teknologi, I hail you!

Melihat foto temen di Kalibiru, makin kepengen ke Kalibiru. Berasa banget di ketinggiannya. Selain nanya ke temen yang pernah ke Kalibiru, gue pun bertanya sama temen yang tinggal di Yogyakarta, apakah dia sudah pernah ke Kalibiru atau belum. Temen gue menjawab sudah pernah ke Kalibiru, tapi, dengan tambahan, "Ngapain ke Kalibiru? Foto-foto yang beredar tuh nipu banget, rugi, deh, kalo ke sana, jauh pula. Tapi kalau penasaran ya coba aja sih, tapi beneran rugi, deh! Bagusnya menjelang sunset." Perkataannya kurang lebih seperti itu, menekankan kepada kata 'rugi' kalau ke Kalibiru. Loh, kenapa? Ya makin penasaran.
Gue menuju Kalibiru dengan menggunakan motor, modal Google Maps. Jalannya lumayan asik, saingannya bus sama truk, tapi kalau udah mendekati arah Waduk Sermo, alamiah banget lah. Sejuk. Di tengah perjalanan, nemuin jalan belum teraspal, tapi ya masih bisa dilewati. Sampai pada akhirnya sampai lah di Waduk Sermo.
Waduk (atau Danau) Sermo (?)
Selamat Datang!
Bayar Tiket Masuk
By the way, tiket masuk ke Wisata Alam Kalibiru hanya Rp5.000 saja per orang. Lumayan lah. Jalanan dari Waduk Sermo ke Kalibiru juga cukup menegangkan. Bagi gue sebagai penumpang motor, dengan jalanan yang nanjak, terkadang curam, duh menyeramkan, hahaha lebay. Tapi adem, soalnya masih asri banget banyak pepohonan, hijau!
Selamat Datang!!(2)

Sebelum sampe di tempat teratas, dari parkiran motor mesti jalan nanjaaaak banget tapi dikit, buat gue sih melelahkan, ditambah panas terik matahari. Gue udah merasa lebay takut-takut gimana gitu pengen nyobain duduk di kayu yang di pohon itu. Eh ternyata.......
Kalibiru
Kalibiru tidak sesuai ekspetasi. Kirain, untuk naik ke kayu yang di pohon itu mesti dengan perjuangan cukup berat dengan naik tangga dari bawah. Ternyata, mesti flying fox dulu baru deh bisa duduk di pohon itu, di sini ada flying foxnya. Waktu gue sampe sini, wahananya belum buka, tapi kalaupun udah buka, gue engga mau coba. Kenapa? Karena ya engga mau aja, bukan karena takut ketinggian.
Kekerenan foto suatu obyek wisata terletak dari pengambilan foto dengan sudut pandang yang tepat. Dikirain pohonnya tinggi apa gimana, ternyata, ya pokoknya tidak sesuai ekspetasi.


Gue berkunjung ke Kalibiru waktu hari biasa alias hari kerja, jadi engga begitu rame, apalagi datangnya di siang hari, orang-orang menghindari panas, lah gue mendekati panas, suer panas banget, terik matahari. Walaupun tidak sesuai ekspetasi, tapi emang keren pemandangannya, jadi ya tidak begitu menyesal, lah.
Narsis Dulu!
Jadi, ketika kamu melihat sebuah foto perjalanan seseorang dan melihat pemandangannya keren banget dan membuat kamu kepengen juga mengunjungi obyek wisata tersebut, jangan terlalu ketinggian berekspetasi. Engga semua yang ditampilkan di foto itu sesuai kenyataan. Apalagi sekarang banyak banget foto perjalanan wisata dengan hasil polesan edit-an aplikasi-aplikasi foto di smartphone. Bukan suatu masalah, sih, kalau edit-nya hanya ingin menambahkan ketajaman warna, karena engga semua hasil kamera smartphone begitu tajam, terutama di warna. Yang jadi masalah kalau edit-annya malah jadi 'menipu', if you know what I mean.
Intinya, semuanya kembali pada persepsi masing-masing:
  1. Bagaimana kita mengambil sudut pandang dalam pengambilan foto untuk membuat hasil foto terlihat lebih menarik daripada kenyataan.
  2. Bagaimana kita mensyukuri karunia-Nya dan cara menikmati obyek wisata, terutama alam.
  3. Bagaimana karakteristik wisatawan itu berbeda-beda, ada yang sering foto karena selalu merasa tidak berhasil mengambil angle yang pas, atau malah ada yang males foto karena merasa obyeknya tidak menarik. Bisa jadi, ketika kita tidak sempat mengambil foto suatu obyek wisata kalau lagi jalan-jalan, karena terpukau dengan keindahannya yang nyata, atau malah karena smartphone atau kamera habis battery dan engga nemuin tempat buat nge-charge di sekitar obyek wisata, hahaha!
Tips ke Kalibiru: datang di siang menjelang sore!
Keep Traveling and Share Your Travel Experiences!